Penanggulangan wabah PMK oleh kuntum farmfield yang sedang marak terjadi di Indonesia.
Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau foot and mouth desease (FMD), disebabkan oleh virus Aphtaee epizooteceai. Penyakit ini menyerang ternak-ternak yang memamah biak. Tahun 1887 sudah ditemukan virus PMK ini di Indonesia, dan pada tahun 1983 dinyatakan secara nasional Indonesia bebas virus PMK. Lalu pada tahun 1996, Indonesia dinyatakan bebas PMK oleh organisasi kesehatan hewan dunia.
Pada tahun 2022, kembali lagi merebaknya kasus PMk di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Tidak terkecuali, beberapa ternak kuntum farmfield juga mengalami fase kritis di awal bulan Juni. PMK ditandai dengan tidak adanya nafsu makan, keluarnya saliva atau air liur yang berlebihan, luka sariawan pada mulut bibir dan hidung, adanya peradangan pada celah kuku serta suhu tubuh yang tinggi. Dengan selalu berkonsultasi dengan tenaga medis Dinas Peternakan Kodya Bogor, kami melakukan Langkah-langkah pengobatan sesuai dengan komitmen kuntum farmfield yang non kimia.

Sanitasi kandang juga menggunakan eco enzyme. Luka peradangan pada kaki dibalurkan larutan minyak kelapa yang dipadukan dengan kunyit, brotowali, sambiloto, dan daun ketepeng kebo. Kemudian untuk mengatasi luka sariawan pada bagian mulut dan moncong ternak dilakukan pembaluran kunyit dan jeruk, sekaligus untuk menambah asupan vitamin c.
Asupan energi kami gelonggongkan cairan gula merah dan telur sebanyak 1 butir per 100 kg bobot ternak, pemberian dilakukan 2 kali yaitu pagi dan sore. Pada siang hari digelonggongkan cairan konsentrat dan molase. Dalam kurun waktu 3 hari, mulut ternak sudah mulai mau mencari-cari rumput, dan berikutnya mulai menguyah pakan.
Pada bulan Juli dengan pengawasan disnak, kami sudah bisa mengirimkan ternak untuk kurban. Sampai dengan bulan Desember 2022, ternak kuntum sudah mendapatkan vaksin ke 2, dan muncul beberapa kelahiran sebagai tanda pulihnya imunitas ternak.

Source: Bpk. Prasasti Baroto